Berdasarkan Kisah Nyata..
sekitar bulan Maret 2016, seseorang tetanggaku bertanya kepadaku. saya (X) dan Tetangga (Y)
Y: Beli apa kak?
X: Beli gado- gado bu.
Y: Eh ini kan anaknya ibu ****** ya yg kuliah di "BU" ?
X: Iya bu, memangnya ada apa ya?
Y: gimana kuliah disana? maksudnya dengan lingkungan disana?
X: Baik aja koq bu.
Y: Kuliah pakai jilbab? Gapapa kan?
X: Alhamdulillah, Saya kuliah pakai jilbab, memangnya kenapa ya bu?
Y: kan banyak chinnese disana, apa gk aneh?
X: memang disana mayoritas chinnese tapi udah bnyak koq yg pakai jilbab.
Y: Oh gtu ya kak, yaudah ibu duluan ya..
Lalu pada hari ini tadi mamaku pergi bersama rombongan tetangga yg tergabung dalam kelompok pengajian dan mama bertanya kepada ibu Y.
Mama: anaknya dapat kuliah dmana? jadi di "BU" ??
Y: nggak jadi bu, anaknya takut soalnya disana orang cina semua.
Mama: terus sekarang dimana?
Y: jadinya di Kampus "EU", padahal kan keluarga saya dari kemanggisan, bisa aja tuh dapat diskonan karena rumahnya di wilayah "BU".
Mama: oh gtu.
Yang menjadi pemikiran saya, Apakah sebegitu takutnya orang indonesia tulen dengan orang cina? Masalahkah dengan Jilbab? Saya berpikir buat apa kita merasa terganggu, takut dsb ?? memangnya mereka penjajah? memangnya mereka itu iblis? Dajjal? atau malah malaikat pencabut nyawa??.
Indonesia adalah negara yg demokratis. "Bhinneka Tunggal Ika", Negara yg terdiri dari Ribuan pulau, Sekian banyak Suku, Ras, Agama, Bangsa dan merupakan Lokasi yang strategis bagi Pasar Perekonomian. sudah dari lama sebelum Jaman Orde Baru (Kejadian 1998) kita sudah hidup berdampingan dengan orang cina tapi kenapa sampai sekarang kalian takut dengan mereka??
Puji Tuhan saya memiliki keluarga yg demokratis dan penuh toleransi. tak ada saya dilarang berteman dengan orang cina atau orang apapun. bagi saya saat ini mereka sama saja dengan kita (Para orang indonesia tulen). biarkan mata mereka Sipit Kalau kata Ernest Prakasa "Melek aja ngirit" tapi mereka tetap warga indonesia.
Salahkan Kalau Ibukota Indonesia yang mempunyai sejarah sekian lama dipimpin oleh Orang Indonesia tulen lalu sekarang di pimpin oleh orang chinnese??
Menurut Saya, Seharusnya Orang Indonesia tulen itu bisa belajar dengan mereka (Para Orang Chinnese). Mereka memiliki Ketegasan, Tata Krama, Keuletan dan kegigihan, Budaya, Kepatuhan, Tanggung jawab serta yang terpenting adalah POLA PIKIR mereka itu untuk maju. Mereka itu Berpikir bahwa Masa Lalu yg kelam itu hanya yg boleh merasakan oleh mereka. Tidak untuk Generasi penerus mereka. Mereka menjadikan Masa lalu itu Pembelajaran untuk Maju Kedepan dengan Seluruh kerja keras mereka. Tapi apa yg kita lihat kalau dari orang indonesia Tulen??
Pernahkah kalian berpikir banyak orang indonesia tulen itu "Udik" berpikir bahwa Masa lalu memang kelam tapi apa boleh buat, Sekarang ya Sekarang dan Besok ya Besok..
Ada Rezeki Sekarang yg berlebih yaudah di gunain sekarang aja selagi bisa, Untuk besok pasti ada lain lagi untuk besok. Hanya Bisa meratapi nasib, Punya Pemikiran Mau Maju tapi tidak ada Actionnya untuk merealisasikan hal itu.
Saat orang Chinnese berhasil, kita para orang indonesia tulen hanya bisa Gigit jari meratapi nasib atau malah hanya bisa Menghancurkan apa yang telah di bangun oleh orang cina itu tapi pada dasarnya orang tsb ikutan menikmati hasil jerih payah orang chinnese. Apakah orang Indonesia tulen hanya Memiliki Gengsi dan Ego yg besar? Amarah dan Emosi di kedepankan? Berpikir itu perlu Otak yang adem bukan Berpikir menggunakan Emosi.
Pernahkah kalian melihat di acara Demo di depan gedung MPR atau Gedung Kepresidenan Yang berdemo itu orang indonesia tulen, Kemana orang chinnese selama mereka berdemo?? Orang Chinnese malah tetap sibuk bekerja, Berusaha untuk maju tanpa terpengaruh oleh apapun itu demo. Orang Indonesia tulen hanya bisanya Komplain dan Komplain, Sedangkan Orang Chinnese beranggapan "Selagi itu tidak Mengganggu aktivitas saya, Buat apa saya ikutan demo".
*Jangan Diambil Hati, Tapi Ambilah untuk diolah di Pikiran Kalian masing- Masing dan Belajar untuk kebaikan dengan Melihat orang Chinnese (Sosial Learning- Albert Bandura).
-Bustaniyahr, 18 Juli 2016, Tangerang-